Kehadiran internet telah membuka ruang kebebasan bagi siapapun untuk menyampaikan informasi kepada publik. Dari sinilah sesungguhnya jurnalisme warga dimulai.
Suatu hari, dengan berbekal sebuah laptop dan modem, Mark Drudge membeberkan kisah perselingkuhan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dengan artis Hollywood Monica Lewinsky. Hanya dalam hitungan menit bahkan detik, skandal seks mantan orang nomor satu di Amerika itu menyebar luas ke seluruh penjuru dunia melalui jaringan internet.
Di Indonesia, bukan sekali waktu video mesum anggota dewan beredar di internet. Setelah atau sebelum heboh video YZ dan ME, sudah beberapa kali pejabat publik hingga selebritis yang justru dikenal santun oleh masyarakat dibuat malu karena skandal seks yang dirahasiakannya terkuak.
Diakui atau tidak, internet memberikan ruang kebebesan bagi setiap orang untuk menyampaikan dan mendistribusikan informasi tanpa sensor. Melalui email, forum, media social networking semacam friendster hingga facebook dan weblog, orang bisa memuat informasi apapun, mulai dari masalah personal sampai isu yang menyangkut kepentingan publik.
Sejak itulah, kata Ana Nadya Abror, cikal bakal Jurnalisme Online lahir. Dalam diskusi “Jurnalisme Warga: Ancaman bagi Media Massa?” yang diselenggarakan LPM VISI UNS pada 28 Februari 2008 di kampus UNS Surakarta, dosen Ilmu Komunikasi UGM itu menyebut internet sebagai media yang ideal bagi penerapan jurnalisme warga yang dalam istilah asalnya disebut citizen journalism atau participatory journalism.
Jurnalisme warga adalah bentuk lain dari jurnalisme, di mana setiap orang bisa melaporkan berita seperti yang selama ini dikerjakan oleh wartawan media mainstream.
Dipilihnya internet sebagai media yang ideal bagi penerapan jurnalisme warga, karena internet memungkinkan berita disampaikan oleh siapa saja yang tersambung dengan jaringan internet, dengan cepat dan lebih interaktif.
Berangkat dari kenyataan itu, jurnalisme warga yang diakomodir oleh jurnalisme online seolah-olah bukan sebagai jurnalisme. Muncul pertanyaan, apakah berita yang disampaikan oleh orang yang awam yang tanpa latar belakang jurnalistik itu bisa dicek kebenarannya, apakah benar orang yang bersangkutan tidak sedang menyebarkan fitnah?
Bagi Abror, ketika kita sudah membicarakan jurnalisme warga di mana setiap orang bisa ambil bagian, maka sudah tak perlu lagi mempermasalahkan aspek etika, akurasi seperti yang diterapkan dalam jurnalisme konvensional. Semuanya diserahkan kepada pembaca. Mau percaya atau tidak, terserah pembaca!
Menanggapi pernyataan Abror, Aulia Muhammad Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Cyber News yang juga menjadi pembicara dalam diskusi, balik bertanya. Lantas kenapa jika memang tak perlu ada etika, PPWI merasa perlu menerapkan dasasila bagi anggotanya?
PPWI kependekan dari Persatuan Pewarta Warga Indonesia. Seperti yang dijelaskan dalam blognya (http://ppw-indonesia.blogspot.com), organisasi ini menerapkan dasasila yang secara garis besar poin-poinnya mencakup prinsip-prinsip jurnalisme media pada umumnya. Organisasi yang dikelola oleh warga Indonesia ini bermarkas di ibu kota Jakarta dan telah memiliki banyak anggota.
“Pada hakekatnya jurnalisme warga memberikan kebebasan. Ini satu perkara. Persoalan orang mau menanggapinya lain, itu lain perkara. Kebebesan itu bagian tersendiri. Kalau yang bersangkutan menggunakan ruang publik, maka akan ada akuntabilitas publik,” jawab Abror.
Siapa saja pelaku jurnalisme warga?
“Pelaku jurnalisme warga adalah warga. Siapapun boleh ikut,” terang Abror.
Siapa warga itu, menurut Aulia, bukan hanya warga dalam batasan warga dalam sebuah negara. Warga di sini juga mencakup warga dengan kategori profesi dan latar belakang, termasuk jurnalis yang bekerja di media mainstream.
Syaratnya, jika dia seorang wartawan, dalam melaporkan berita itu ia tidak sedang mewakili profesi dan lembaga medianya. Jika ia serorang pejabat publik, entah itu anggota dewan atau bahkan presiden, ia tak sedang mewakili jabatannya. Apa yang disampaikan adalah pandangan pribadinya.
Peran Penulis Surat Pembaca
Mengawali presentasinya, Bambang Haryanto memutar sebuah kaset hasil wawancara sebuah stasiun radio di Solo dengan salah seorang penulis surat pembaca. Narasumber menceritakan kisah awal mulanya ia menulis surat pembaca.
Suatu hari di tahun 1973. Narsumber mengirimkan surat pembaca ke harian Suara Merdeka. Ia menanyakan pohom palem di Alun-alun Utara Solo yang tidak terurus. Setelah suratnya dimuat, pohon palem itu diperhatikan oleh pemerintah setempat. Kini pohon palem itu tidak jadi mati, ia terus disiram hingga akhirnya tumbuh besar.
Di kemudian hari penulis surat pembaca itu mendirikan komunitas Epistoholik Indonesia. Sebagai ketuanya adalah si penggagas ide itu sendiri. Dia adalah Bambang Haryanto, penulis surat pembaca yang memasalahkan pohon palem yang tak terurus itu.
Istilah Epistoholik diambil dari Majalah Times. Dipakai untuk menjuluki Anthony Parakal, warga Evershine Nagar, Mumbai, India. Lebih dari 5.000 surat pembaca yang ditulis dalam Bahasa Inggris telah dikirimkannya ke berbagai media internasional. Jumlah yang teramat fantastis, bukan?
Ketika nama Epistoholik itu kali pertama muncul di majalah Times edisi 6 April 1992, Bambang sebenarnya telah lama memulai karirnya menulis surat pembaca. Setelah mengetahui bahwa kegemarannya menulis surat pembaca itu ternyata juga dilakukan oleh orang lain di belahan bumi sana, yang bahkan lebih gila dari yang sudah dikerjakannya, ia merasa perlu mempertegas lagi kegemarannya itu. Sejak itulah ia mulai merintis komunitas Epistoholik Indonesia yang didirikannya sejak tahun 1992.
Meski sudah dirintis sejak kemunculan Epistoholik di majalah Times, namun komunitas pegiat surat pembaca yang digagas Bambang itu baru bisa berjalan secara efektif mulai tahun 2003. Keanggotannya bersifat informal. Mulanya ia menghubungi sejumlah nama yang kerap menulis surat pembaca. Beberapa orang menaruh simpati dan virus menulis surat pembaca di media pun mulai disebarluaskan. Seperti yang kerap anda jumpai, sejumlah penulis surat pembaca mencantumkan embel-embel identitas “Warga Epistoholik Indonesia”.
Perkanalannya dengan blog di tahun 2003, dimanfaatkannya untuk menyebarluaskan gagasannya kepada khalayak yang lebih luas. Ia membuat sebuah blog http://episto.blogspot.com. Blog ini dibuat pada tahun 2003 ketika media ini belum begitu populer di kalangan pengguna internet di negeri ini.
Nama Bambang Haryanto telah dicatat dalam rekor Muri pada 27 Januari 2005 sebagai pendiri Komunitas Epistoholik Indonesia. Demikian seperti yang tertulis dalam poster berwarna merah yang sengaja dipajang Bambang di samping meja para pembicara. Di sana juga tertulis slogan Epistoholik Indonesia: "Episto Ergo Sum : Saya Menulis Surat Pembaca Karena Saya Ada".
Keamatiran Justru Kelebihan
Jika wartawan mengerjakan sebuah berita dengan kaidah dan standar kerja jurnalisme, pewarta jurnalisme melaporkan berita dengan pengetahuan dan style mereka yang berangkat dari berbagai latar belakang yang dimilikinya. Maka jangan berharap berita yang ditulis atau dilaporkan oleh “wartawan awam” ini akan memenuhi standar berita jurnalisme seperti yang dilaporkan oleh media mainstream.
Namun demikian, justru keamitran inilah yang menjadikan nilai lebih dari jurnalisme yang dikelola oleh warga. Aulia menyontohkan sebuah rekaman video saat terjadi Tsunami di Aceh beberapa tahun silam yang dibuat oleh Cut Putri.
Pembuat video dikenal sebagai selebritis. Apakah Cut Putri pernah mendapat materi jurnalisme, ini masih perlu ditelusuri, namun yang ingin disampaikan adalah video itu tidak dikejakan dengan metode kerja standar jurnalisme dan tidak sedang dikerjakan dalam rangka untuk dimuat di media.
Video itu dibuat begitu saja, asal-asalan. Sudut pandang gambar yang diambil tidak fokus, di sana-sini gambar goyang-goyang, menampakkan bahwa pengambil gambar memang masih amatir. Pengambil video sepertinya gugup, tak ada persiapan yang cukup dan juga ikut panik, seperti yang dialami orang-orang yang ada di sekelilingnya saat kejeadian.
Dari rekaman Cut Putri itu, terekam bagaimana bumi mendapatkan getaran pertama, wajah yang cemas, orang-orang yang berlarian, gerak air pasang, jeritan doa, tangis, pekikan Allohu Akbar!
“Aneh, ketika sejumlah wartawan memilih untuk menyelematkan diri dan keluarganya sendiri, Cut Tari yang bukan seorang wartawan justru melakukan apa yang seharusnya dikerjakan oleh wartawan,” ungkap Aulia dengan tatapan serius ke arah hadirin.
Aulia kemudian menarik beberapa kesimpulan. Dari sudut pandang, jurnalisme warga memiliki watak yang personal. Dalam video Cut Putri, gambar yang diambil murni mewakili sudut pandang si pengambil gambar.
Hal yang sama juga dilakukan oleh blogger yang menulis dalam diari onlinennya. Seorang blogger akan bercerita dengan sudut pandang saya. Bercerita secara lepas seolah tanpa beban ketika memuji pihak tertentu dan mengejek pihak lainnya, atau bahkan memuji dirinya sendiri.
Sesuatu yang personal ini sebenarnya dibutuhkan oleh pembaca untuk mengetahui situasi secara lebih utuh, secara lebih personal dan jujur. Tapi tampaknya yang seperti ini justru yang tidak terangkut dalam pemberitaan wartawan media mainstream.
Selain watak yang personal, ciri lain dalam jurnalisme warga adalah longgarnya durasi dan diangkatnya aspek lokalitas. Durasi bagi televisi adalah sesuatu yang teramat mahal harganya jika dibanding tarif iklan permenit yang bisa mencampai puluhan hingga ratusan juta. Sementara bagi media cetak, jumlah halaman akan berpengaruh pada harga cetak dan space untuk pengiklan. Dalam jurnalisme warga, semua kepentingan itu gugur. Durasi mendapatkan kelonggaran sepanjang rekaman atau tulisan yang dimaui oleh pewarta jurnalisme warga.
Melengkapi, bukan ancaman
Gegap gempita kemunculan jurnalisme warga di Indonesia tampaknya masih sebatas euforia masyarakat kita yang gemar ikut-ikutan merayakan fenomena global. Selain kurangnya kesadaran masyarakat akan perlunya menyampaikan informasi kepada khalayak, juga masih terbatasnya akses informasi masyarakat terhadap media internet.
“Bayangkan, setiap detik, technorati mencatat blog baru muncul di internet. Setiap menit jumlahnya sudah mencapai angka ratusan. Apakah anda semua sudah menjadi bagian dari masyarakat ini?” tanya Aulia kepada para hadirin.
“Jika tidak, mana mungkin jurnalisme warga akan mengancam media mainstream,” jawab Aulia.
Dari awal, Abror sudah menyatakan bahwa media yang ideal untuk menerapkan jurnalisme warga adalah internet. Jika partisipasi masyarakat dalam mengakses internet saja masih kurang, seperti kata Aulia, jurnalisme warga memang belum akan mengancam eksistensi media mainstream.
Aulia menunjukkan jika kehadiran jurnalisme warga dalam kenyataannya justru ditampung dengan baik oleh media mainstream. Sejumlah media besar di Indonesia kini menyediakan rubrik yang dikhususkan untuk pembacanya. Contohnya Suara Merdeka Cyber News yang sejak awal Februari 2008 membuat rubrik Suara Warga yang memberikan kesempatan kepada pembaca melaporkan beritanya secara lebih leluasa
Bambang sebagai pegiat komunitas Epistoholik Indonesia mengeluhkan kurang seriusnya media cetak dalam mengelola rubrik Surat Pembaca. Ia menyontohkan, sebuah tanggapan surat pembaca atas surat lainnya baru akan dimuat beberapa edisi kemudian. Belum lagi, surat itu kalau dimuat. Dan kalaupun dimuat, beritanya sudah basi. Jika rubrik surat pembaca itu dikelola secara lebih serius, Bambang yakin akan ada hal lebih yang bisa didapatkan dari menulis surat pembaca.
Kelemahan dalam media cetak, sebuah berita tidak mendapatkan timbal balik dari pembaca sehingga bisa terjadi interaksi antara si pembaca, wartawan dan pembaca lainnya. Dalam media internet atau media digital lainnya, sebuah percakapan bisa dengan mudah terjadi. Di internet berita mengalir dengan cepat. Di internet pula, alternatif informasi bisa dengan mudah ditemukan.
Jika masyarakat kita menyadari akan hal ini dan mau mengoptimalkan peran internet dalam membangun jurnalisme yang berbasis warga ini, bukan tidak mungkin peran media mainstream di masa mendatang akan mendapatkan saingan.
Dengan semakin berkembangnya jurnalisme warga, kelak akan semakin banyak orang yang akan berbagi peran dan kuasa dalam pendistribusian informasi kepada publik yang selama ini dimonopoli oleh media mainstream. Meski kehadirannya belum bisa dikatakan mengancam, setidaknya jurnalisme yang dikelola oleh warga ini bisa dijadikan alternatif bagi publik untuk memperoleh informasi.
Pada gilirannya nanti, bukan hanya kebebasan yang akan didapat oleh warga dari penerapan jurnalisme warga ini, tapi juga kemenangan. Ya, kemenangan untuk bisa ikut terlibat dalam menyuarakan suara warga tanpa perantara.
Tuesday, May 13, 2008
Blog dan Jurnalisme Warga
Posted by
udin
at
1:13 PM
0
comments
Monday, November 20, 2006
Pemenang Lomba Blog 2006
SAAT yang ditunggu akhirnya tiba. Setelah melalui penjaringan 30 peserta, dewan juri akan memilih tiga peserta terpilih yang terbaik. Pengumuman disampaikan Minggu (18/11) di Le Resto Cafe, Jl Sultan Agung, samping AKPOL Semarang.
Dari kiri: Muhamad Sulhanudin, Sudaryono Ahmad, dan Ahmad Munif. (Foto oleh Loenpia.net)
"Pemilihan tiga pemenang ini melalui proses yang melelahkan. Para dewan juri semalam berkumpul mencari peserta terbaik. Namun sampai tengah malam belum juga ketemu," kata Aulia Muhammad, Pemimpin Redaksi Suaramerdeka.com.
Mendengar penjelasan itu, para peserta tampak bengong. "Terus gimana, berarti nggak ada pemenangnya dong?" ucap salah seorang peserta.
"Karena belum menemukan kesepakatan, akhirnya dewan juri melanjutkan sampai pagi. Akhirnya kami mendapatkan ilham. Kami sepakat memilih tiga peserta terbaik," tambah Aulia.
Pertama dipanggil peserta terbaik ketiga, pemilik blog http://embunkehidupan.blogspot.com. Dia adalah Muhamad Sulhanudin. Pemuda yang mengaku masih kuliah di Jurusan Sastra Inggris Undip ini menceritakan tentang kesedihan di dalam blognya.
"Mas, emangnya sampeyan itu bersedih terus ya. Semua yang diceritakan kok tentang kesedihan?" tanya Ringga sang pemandu acara, yang juga penyiar Trax FM Semarang.
"Nggak juga. Saya cuma ingin berbagi agar orang tak mengalami hal serupa," jawabnya singkat.
Kemudian diurutan kedua ada http://penakayu.blogspot.com. Dia adalah Sudaryono Ahmad, blogger dari Purwokerto, datang dengan mengenakan kemeja panjang, topi pat ala pak Tino Sidin. Cerita terakhir yang dilombakan adalah tentang Sumanto. Sumanto sang kanibal itu akhirnya kini mendadak menjadi selebritis, dia terkenal karena aksi kontroversialnya itu.
Pada posisi puncak, Ahmad Munif, pemilik blog http://munif.wordpress.com terpilih sebagai jawara. Anggota Loenpia.net ini memberi nama blognya dengan Rumah Pastel. Dalam posting terakhir artikel yang dilombakan, ia mempertanyakan "Kenapa Harus ada kata Maaf". Sebelumnya ada juga cerita unik berjudul "Setelah Ketupat Lebaran Berganti Nasi". Dis isni Munif mengkritik kesalehan orang yang hanya dalam bulan Ramadhan. Setelah orang bermaaf-maafan, tawuran pun kembali terjadi.
Sebagai hadiah, pemenang ketidua dan ketiga mendapatkan HP CDMA plus kartu perdana Flexi. Khusus pemenang pertama mendapatkan paket wisata ke Bali. Dengar-dengan Munif sekarang sedang mencari seorang untuk menemaninya ke Bali.
Selain para pemenang, peserta juga mendapatkan doorprize yang dibagikan oleh sang pemandu acara. Diantaranya adalah peserta yang memiliki KTP terjauh, peserta yang memiliki kenalan lebih dari lima orang.
Lomba Blog 2006 ini merupakan hasil kerjasama Telkom Semarang, Suaramerdeka.com, komunitas Loenpia, dan Radio Trax FM. Karena masih dalam suasana lebaran, lomba mengambil tema "Membuka Maaf Melebur Dosa".
Hadir ditengah peserta Djoko Soeseno, yang memberikan sambutan mewakili Telkom Semarang, mengaku terkejut jika peserta lomba mencapai 200 peserta lebih.
"Pemakai internet di Indonesia masih terbilang rendah. Padahal dari internet kita bisa menemukan tentang apa saja. Para blogger di sini tentu saja merupakan pemakai internet setia. Oleh karena itu, diharapkan anda sekalian bisa menularkan minat pada internet kepada masyarakat luas," ucapnya.
"Saya juga baru tahu, ternyata minat kaum hawa terhadap blog cukup besar. Mungkin karena di blog orang bisa ngomong apa saja. Bisa ngerasani orang dan lain-lainnya," tambahnya.
Malam pengumuman pemenang itu pun usai sekitar pukul 21.00 WIB. Tak lupa sebelum membubarkan diri, para peserta berfoto-foto ria. Saking semangatnya, mereka lupa kalau ketiga pemenang terhalang dibelakang kerumunan peserta.
Tulisan ini dimuat di Suaramerdeka.com
Posted by
udin
at
10:54 AM
0
comments
Labels: Kabar
Sunday, September 24, 2006
Berkomunikasi dengan Siapa pun melalui Blog
''Pernahkah Anda membayangkan dapat berkomunikasi langsung dengan orang-orang terkenal yang Anda kagumi melalui internet? Atau, mungkin justru Anda ingin menjadi terkenal seperti mereka? Semua itu akan dapat terwujud apabila Anda telah menggeluti dan menguasai dunia blog,'' ungkap Pemimpin Redaksi Suaramerdeka.com Aulia A Muhammad dalam seminar dan workshop ''Nge-Blog Kita Bisa'' di aula Fakultas Hukum Unsoed Purwokerto, Sabtu (23/9). Acara ini terselenggara berkat kerja sama Suaramerdeka.com dengan Global Institute (GI) Purwokerto dan Telkom Purwokerto.
Dalam sebuah tulisan di blog-nya yang berjudul ''Gibran dan Moralitas Orang Tua'', Aulia memaparkan bagaimana kekuasaan orang tua dalam menghipnotis moral seorang anak. Dia menekankan, seorang anak bukanlah milik orang tuanya. Menurut dia, tulisan itu memang sengaja dia tujukan kepada artis Tamara Bleszynski yang dia anggap begitu menguasai hak asuh anak kandungnya Rassya hingga menjauhkannya dari sang ayah. Tulisan tersebut mendapatkan tiga komentar dari bloger lainnya. Salah satunya dari yang mengaku bernama Tamara dengan alamat Bundarassya.blogspot.com.
''Anakku, bila ibu boleh memilih apakah berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu, maka ibu akan memilih mengandungmu. Karena dalam mengandungmu, ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah,'' demikianlah penggalan komentar ''Tamara''. Yang menjadi pertanyaan, apakah benar komentar tersebut langsung meluncur dari artis terkenal Tamara Bleszynski? Anda tidak perlu risau memikirkan jawabannya. Simak saja pendapat Aulia.
''Itulah fenomena di dunia maya. Seseorang bisa menjadi siapa saja dan mengaku siapa saja. Kita juga bisa membenci ataupun mencintai siapa saja.''
Aulia mengungkapkan, banyak manfaat yang dapat diperoleh melalui blog. ''Kita bisa menjadi diri sendiri, mengaktualisasikan apa pun yang ada dalam pikiran kita, serta percaya tulisan kita tentang apa pun akan dibaca oleh orang lain.''
Nurul Hidayat M Kom (dosen MIPA Unsoed) mengemukakan, blog dianggap spesial karena mudah digunakan, memungkinkan setiap orang berkolaborasi dan saling berbagi informasi, biaya murah, dan tidak memerlukan keahlian khusus.*Tulisan ini juga bisa diakses di http://www.suaramerdeka.com/harian/0609/24/nas08.htm
Posted by
udin
at
5:40 AM
0
comments
Labels: Kabar
Sunday, September 17, 2006
Demi Seminar "Nge-Blog Kita Bisa"
Rela Naik Motor dari Semarang ke Solo
Terdorong rasa ingin tahu yang lebih dalam tentang blog, Benny Martha (28), mahasiswa semester VII Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Terbuka Unit Program Belajar Jarak Jauh (UT UPBJJ) Semarang, rela datang dari Semarang ke Kampus UNS.Sabtu (16/9), di kampus itu sedang digelar acara pelatihan pembuatan situs pribadi gratis dan weblog dengan tema "Nge-Blog Kita Bisa".
Kegiatan itu diselenggarakan suaramerdeka.com bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS dan Telkom Speedy Semarang.
Benny mengungkapkan, informasi tentang acara itu diperoleh setelah membaca harian Suara Merdeka dan juga suaramerdeka.com.
"Waktu acara ini diselenggarakan di Undip, saya tidak memperoleh informasinya, sehingga kelewatan," ujar dia. Mengenai ketertarikan dirinya untuk mengikuti acara tersebut, menurut dia ada 3 hal. Yaitu materi acara tentang seluk-beluk blog, pembicaranya adalah Aulia A Muhammad (Pemimpin Redaksi suaramerdeka.com), dan ada sebuah blog yang menjelaskan bahwa seorang konsumen ternyata bisa memengaruhi konsumen lainnya untuk membeli barang/jasa.
"Ketertarikan saya kepada Aulia itu muncul setelah saya sering membaca blog auliamuhammad.blogspot.com. Ketika saya surfing ke sebuah blog, ternyata memberikan komentarnya kepada perusahaan di tempat saya bekerja," tutur pria yang bekerja di Service Department New Ratna Motor Semarang itu.
Usai mengikuti seminar yang berlangsung pada pukul 09.00-11.00 dan workshop sesi pertama pukul 13.00-15.30, Benny mengaku tertarik untuk membuat blog sendiri serta menularkan ilmu yang diperolehnya kepada teman-teman.
"Melalui blog, bisa mengungkapkan semua pikiran secara terbuka, tanpa harus kesulitan mencari media yang saat ini penuh dengan keterbatasan," tutur dia.
Etika Blog
Aulia A Muhammad mengungkapkan ada banyak etika mengenai blog. Namun secara keseluruhan, ada 4 etika utama. Pertama, jangan mengakui karya orang lain sebagai karya sendiri. Sebab dalam hitungan detik, kebohongan itu akan diketahui oleh blogger yang lain.
Kedua, jangan pernah memasang foto orang lain sebagai identitas blog. Ketiga, sesama blogger harus saling membantu bila menemui kesulitan. Keempat, ketika blogger lain mengunjungi blog kita, yang bersangkutan harus balas mengunjungi.
"Dalam dunia maya, apabila tidak memiliki pribadi yang jelas dan keunikan, kita akan dianggap sampah," tandas dia.
Sementara itu, Ketua Pusat Komunikasi UNS Sutanto menuturkan, SMS adalah bukti kecil keagungan Tuhan. Betapa tidak, seluruh data SMS yang dikirimkan kepada teman, sahabat ataupun pacar itu dicatat oleh para operator seluler.
"SMS saja memiliki data dan catatan. Apalagi Tuhan Yang Maha Kuasa, pasti akan memiliki seluruh catatan perbuatan kita semasa hidup di dunia. Bukan tidak mungkin, melalui kisah kematian atau kisah menarik lainnya yang ada di blog, seseorang akan sujud dan tunduk pada kebesaran Tuhan," jelas dia.*Tulisan ini juga bisa diakses di http://www.suaramerdeka.com/harian/0609/17/nas09.htm
Posted by
udin
at
11:35 PM
0
comments
Labels: Kabar
Wednesday, September 13, 2006
Membuat Blog yang Berkarakter
Oleh Muhammad Sulhanudin
Bila anda ingin mengekspresikan diri lebih bebas, blog adalah media yang sangat tepat. Melalui blog, kepribadian seseorang dapat terbaca.
Sebanyak 60 peserta mengikuti workshop "Ngeblog Kita Bisa". Peserta diajari materi dasar membuat blog, hingga mempercantik tampilan. (Foto oleh Agung SB)
Oleh karena itu, desain menjadi bagian yang penting. Seorang pemilik blog atau disebut blogger, bisa mengekspresikan dirinya melalui desain yang diinginkan. Desain yang minimalis, misalnya, akan mencerminkan kepribadian seorang blogger yang mapan, atau lainnya.
Hal ini terungkap dalam Workshop "Nge-blog Kita Bisa" yang diadakan oleh Suara Merdeka CyberNews bekerjasama dengan Telkom Speedy dan BEM Undip sebagai pantia pelaksana.
Sebanyak 60 peserta mengikuti workshop. Jumlah ini jauh lebih kecil bila dibanding tingginya animo pendaftar. Bahkan sebagian pendaftar ditolak karena kuota sudah terpenuhi. Workshop dilangsungkan di gedung Kopegtel, ruko Pemuda, Semarang.
Workshop yang dipandu oleh tim Suara Merdeka CyberNews ini dibagi dalam dua sesi. Peserta diajari bagaimana cara membuat blog, mengirim tulisan (posting), mengubah template, hingga mempercantik tampilan blog dengan menambahi beberapa aksesoris seperti shoutbox (bilik teriak), pelengkap jam, dan lain-lainnya.
"Buat judul blog dan deskripsinya semenarik mungkin sesuai tema blog anda," ujar Aulia Muhammad, Pemimpin Redaksi Suara Merdeka CyberNews, disela-sela memandu workshop, sambil menunjukkan beberapa blog yang bisa dijadikan referensi.
Peserta yang kebanyakan dari mahasiswa Undip tampak antusias mengikuti workshop. Rata-rata mereka adalah blogger pemula. "Saya baru kali ini membuat blog dan ternyata sangat mudah," ungkap Diantika Permatasari, mahasiswa Fakultas Sastra Undip.
Namun demikian, ada juga peserta yang sebelumnya sudah memiliki blog. Seperti yang dinyatakan oleh Gema Yudha, teman sekampus Tika, panggilan akrab Diantika.
"Saya sudah punya blog sekitar pertengahan 2005 lalu. Tapi saya ingin lebih mendalami tentang seluk-beluk blog," ujar aktivis pers kampus di Fakultas Sastra ini.
Selain desain, yang lebih penting sebenarnya adalah materi blog. Sebuah blog yang memiliki desain yang menarik namun jarang diupdate akan kurang diminati pengunjung.
"Usahakan posting blog anda secara rutin dan teratur. Misal tiap hari, atau tiap akhir pekan, jangan lebih. Ini sangat penting agar pengunjung terbiasa dengan jadwal posting anda," tambah Aulia.
Selama workhsop, panitia menggunakan fasilitas blogger.com untuk praktik para peserta. Alasannya, fasilitas yang ditawarkan lebih banyak. Selain itu, peserta bisa lebih maksimal mengeksplorasikan dirinya sesuai desain blog yang diinginkan.
"Ini sesuai dengan misi kita, membuat blog yang berkarakter," tambah Aulia.
Kegiatan ini merupakan serangkaian dari "Roadshow Nge-blog Tiga Kota". Setelah workshop di Semarang, pada akhir pekan ini, Sabtu (16/9), workhop akan di gelar di kampus UNS Surakarta. Kemudian pekan depannya lagi (23/9), di Kampus Unsoed Purwokerto.
Posted by
udin
at
9:19 AM
0
comments
Labels: Kabar
Blog Jadikan Dunia Maya Seolah Nyata
Dua jam setelah Bunda Syifa, ibu rumah tangga yang aktif sebagai bloger meninggal dunia, tercatat 318 bloger mengakses berita mengenai kematiannya.
Mereka bertukar informasi mengenai berita duka tersebut. Bahkan, ada pula bloger yang secara detail menceritakan bagaimana ajal datang menjemput wanita yang akrab dipanggil Inong itu, mulai dari sesak napas, dilarikan ke rumah sakit, hingga menghembuskan napas terakhir.
Tidak hanya itu, dalam berita tersebut juga diceritakan bagaimana proses pemakamannya. Kematian Inong tidak membuat orang-orang melupakan dia. Bloger silih berganti menceritakan bagaimana tingkah laku dan kebaikan Inong kepada teman-temannya. Ya, demikianlah sepenggal kisah betapa besarnya pengaruh blog dalam kehidupan manusia.
Kisah itu dipaparkan oleh Pemimpin Redaksi suaramerdeka.com, Aulia A Muhammad, dalam acara pelatihan pembuatan situs pribadi gratis di internet dan weblog di Gedung Prof Soenardi Undip Jl Hayamwuruk Semarang, Selasa (12/9) pukul 08:00-12:00.
Kegiatan yang bertemakan "Nge-Blog Kita Bisa" itu diselenggarakan suaramerdeka.com bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip dan Telkom Speedy Semarang.
Menyimak paparan Aulia yang begitu gamblang dan menarik, puluhan peserta antusias melontarkan berbagai pertanyaan seputar blog. Salah satunya adalah bagaimana membuat blog yang unik dan menarik.
Aulia menjelaskan, ada tiga langkah yang dapat dilakukan untuk membuat blog. Pertama, menulislah dengan jujur, karena syarat untuk menulis di blog harus jujur, termasuk memasang foto wajah sendiri.
Kedua, kalaupun tidak dapat jujur, berbohonglah dengan cara yang indah.
Ketiga, apabila kedua langkah tersebut juga masih tidak bisa dilakukan, berbohonglah dengan lucu.
"Apabila juga tidak mampu melakukan langkah ketiga itu, ya sudah tidur saja di rumah, tidak usah membuat blog," katanya.
Dengan berbagai kelebihan yang dimiliki blog, Aulia menambahkan, segala peristiwa dan hubungan yang terjadi di dunia maya seolah-olah menjadi nyata.
Pembicara lainnya, dosen Ilmu Komputer Undip, Aris Puji Widodo MT, mengungkapkan ada enam tips untuk memilih layanan blog, yaitu gratis, akses cepat, mudah digunakan, mempunyai koleksi template (tampilan/perwajahan blog) yang sudah jadi, bisa diutak-atik template-nya, serta perbedaan fitur.
"Apabila dibandingkan dengan website dan mailing list, blog memiliki beberapa kelebihan, antara lain lebih murah (ada juga yang gratis), lebih mudah pembuatannya (tidak memerlukan sistem pemrograman), pengorganisasian materi lebih rapi, dan diskusi yang lebih termoderasi," katanya.
Komunitas Bloger
Usai pelatihan, 59 peserta langsung mengikuti workshop di Kopegtel Telkom Rukan Pemuda Mas, Jalan Pemuda pukul 13:00-18:00.
Seorang peserta, Asti, menuturkan ketertarikannya mengikuti kegiatan itu karena ingin mengetahui soal blog dan kegunaannya.
"Teman-teman kampus sering membicarakan tentang blog, tetapi saya sama sekali tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Sekarang, saya nggak perlu minder lagi kalau diajak bicara tentang blog," tuturnya.
Peserta lainnya, Indra, mengungkapkan kegiatan itu hendaknya dapat diselenggarakan rutin.
Paling tidak, satu bulan sekali untuk mengetahui perkembangan dan informasi terbaru tentang blog.
"Saya sudah bisa membuat blog dan template sendiri. Ternyata, membuat blog tidaklah sesulit seperti yang saya bayangkan," tuturnya.
Mengenai perkembangan blog saat ini, Aulia mengungkapkan, berdasarkan survei yang dilakukan Google.com, pertumbuhan bloger di seluruh dunia mencapai 6.000 orang/hari untuk setiap satu layanan blog. Jumlah penyedia layanan blog yang ada di dunia tercatat sekitar 44 layanan.
Untuk di Semarang, menurut Aulia, komunitas bloger masih kecil. Padahal, jumlah bloger yang ada sebenarnya cukup besar.
"Mereka merasa lebih menyenangkan berkomunikasi melalui dunia maya dibandingkan dengan bertemu langsung di suatu komunitas. Bila sudah bertemu langsung, menurut mereka, sudah tidak ada lagi kejutannya," kata dia.
Setelah di Undip, road show pelatihan blog akan dilanjutkan di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta pada Sabtu (16/9) dan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto pada Sabtu (23/9).
"Berikutnya, pada Sabtu (30/9) kami juga merencanakan untuk datang ke STIMIK Tegal," kata Aulia.
Posted by
udin
at
5:38 AM
0
comments
Labels: Kabar
Tuesday, September 12, 2006
Suara Merdeka.Com Adakan Workshop "Ngeblog Kita Bisa"
Media online suaramerdeka.com akan mengadakan pelatihan pembuatan situs pribadi gratis di internet dan weblog di tiga kampus ternama di Jawa Tengah, yaitu Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Sebelas Maret Surakarta, dan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.
Untuk di Semarang, acara akan diselenggarakan di Gedung Soenardi Undip Jalan Hayam Wuruk, Selasa (12/9), pukul 08.00-12.00 dengan mengambil tema "Nge-Blog Kita Bisa" dan dilanjutkan workshop di Kopegtel Telkom Rukan Pemuda Mas Jalan Pemuda pukul 13.00-18.00.
Peserta terdiri atas mahasiswa dan umum. Kegiatan itu terselenggara atas kerja sama suaramerdeka.com, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip, dan Telkom Speedy Semarang. "Pelatihan untuk memasyarakatkan weblog dan bagaimana cara pembuatannya kepada masyarakat. Kegiatan itu juga bertujuan untuk memasyarakatkan media online sebagai bacaan alternatif termasuk di dalamnya weblog," ungkap News Director Suara Merdeka H Tommy Hetami, kemarin.
Pemimpin Redaksi suaramerdeka.com Aulia A Muhammad mengemukakan, dunia internet akan terus berkembang termasuk ragam media alternatifnya. Salah satunya adalah weblog atau biasa disebut blog. Saat ini, blog kian diminati sebagai salah satu bentuk media alternatif yang tanpa membutuhkan biaya, mudah, dan berdaya jangkau global. "Dengan dukungan infrastruktur yang memadai baik hardware, software maupun koneksi, blog akan berkembang luas di Indonesia."
Materi Pelatihan
Aulia mengungkapkan, talkshow akan menyajikan dua materi. Materi pertama bertema "Blog, Jurnal Pribadi Berakses Global" yang akan membahas pengenalan serta tips membuat blog yang unik dan menarik. Materi itu akan disampaikan Aulia A Muhammad. Kedua, "Kiat-kiat Praktis Membuat Blog" yang akan membahas mengenai hal-hal teknis rancang bangunnya. Materi itu akan disampaikan dosen Ilmu Komputer Undip Aris Puji Widodo MT.
"Selanjutnya, peserta akan praktik langsung membuat blog di workshop. Tidak sekadar itu, peserta juga akan mendapatkan latihan bagaimana membuat yang unik dan menarik," ucap Aulia.
Presiden BEM Undip Muhammad Taufan menyambut baik pelatihan dan praktik tersebut. "Acara itu tentu bakal mendapat respons positif mahasiswa. Kami juga berharap, tidak ada mahasiswa Undip yang tidak bisa membuat blog. Setidaknya, mereka bisa mengerti apa itu blog dan bagaimana cara membuatnya," tandas mahasiswa Fakultas Hukum itu.
Setelah di Undip Semarang, road show pelatihan blog itu akan dilanjutkan di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta pada Sabtu (16/9). Kemudian, diteruskan di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Sabtu (23/9).
*Tulisan ini juga bisa diakses di http://www.suaramerdeka.com/harian/0609/12/nas23.htm
Posted by
udin
at
11:33 PM
0
comments
Labels: Kabar
Wednesday, September 06, 2006
Salam Perkenalan
Blog of The Week adalah versi blog yang dimuat dari rubrik blog suaramerdeka.com. Resensi blog ini akan diupdate tiap minggu. Jika anda punya blog menarik, dengan kriteria: tematis, unik, orisinil; anda bisa mengajukan untuk diresensi oleh tim redaksi kami. Anda juga merekomendasikan blog teman, atau blog siapapun yang anda anggap layak. Layangkan saja permohonan resensi ke email sulhanudin@gmail.com.
Posted by
udin
at
11:28 PM
0
comments
Labels: Kabar