Kehadiran internet telah membuka ruang kebebasan bagi siapapun untuk menyampaikan informasi kepada publik. Dari sinilah sesungguhnya jurnalisme warga dimulai.
Suatu hari, dengan berbekal sebuah laptop dan modem, Mark Drudge membeberkan kisah perselingkuhan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dengan artis Hollywood Monica Lewinsky. Hanya dalam hitungan menit bahkan detik, skandal seks mantan orang nomor satu di Amerika itu menyebar luas ke seluruh penjuru dunia melalui jaringan internet.
Di Indonesia, bukan sekali waktu video mesum anggota dewan beredar di internet. Setelah atau sebelum heboh video YZ dan ME, sudah beberapa kali pejabat publik hingga selebritis yang justru dikenal santun oleh masyarakat dibuat malu karena skandal seks yang dirahasiakannya terkuak.
Diakui atau tidak, internet memberikan ruang kebebesan bagi setiap orang untuk menyampaikan dan mendistribusikan informasi tanpa sensor. Melalui email, forum, media social networking semacam friendster hingga facebook dan weblog, orang bisa memuat informasi apapun, mulai dari masalah personal sampai isu yang menyangkut kepentingan publik.
Sejak itulah, kata Ana Nadya Abror, cikal bakal Jurnalisme Online lahir. Dalam diskusi “Jurnalisme Warga: Ancaman bagi Media Massa?” yang diselenggarakan LPM VISI UNS pada 28 Februari 2008 di kampus UNS Surakarta, dosen Ilmu Komunikasi UGM itu menyebut internet sebagai media yang ideal bagi penerapan jurnalisme warga yang dalam istilah asalnya disebut citizen journalism atau participatory journalism.
Jurnalisme warga adalah bentuk lain dari jurnalisme, di mana setiap orang bisa melaporkan berita seperti yang selama ini dikerjakan oleh wartawan media mainstream.
Dipilihnya internet sebagai media yang ideal bagi penerapan jurnalisme warga, karena internet memungkinkan berita disampaikan oleh siapa saja yang tersambung dengan jaringan internet, dengan cepat dan lebih interaktif.
Berangkat dari kenyataan itu, jurnalisme warga yang diakomodir oleh jurnalisme online seolah-olah bukan sebagai jurnalisme. Muncul pertanyaan, apakah berita yang disampaikan oleh orang yang awam yang tanpa latar belakang jurnalistik itu bisa dicek kebenarannya, apakah benar orang yang bersangkutan tidak sedang menyebarkan fitnah?
Bagi Abror, ketika kita sudah membicarakan jurnalisme warga di mana setiap orang bisa ambil bagian, maka sudah tak perlu lagi mempermasalahkan aspek etika, akurasi seperti yang diterapkan dalam jurnalisme konvensional. Semuanya diserahkan kepada pembaca. Mau percaya atau tidak, terserah pembaca!
Menanggapi pernyataan Abror, Aulia Muhammad Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Cyber News yang juga menjadi pembicara dalam diskusi, balik bertanya. Lantas kenapa jika memang tak perlu ada etika, PPWI merasa perlu menerapkan dasasila bagi anggotanya?
PPWI kependekan dari Persatuan Pewarta Warga Indonesia. Seperti yang dijelaskan dalam blognya (http://ppw-indonesia.blogspot.com), organisasi ini menerapkan dasasila yang secara garis besar poin-poinnya mencakup prinsip-prinsip jurnalisme media pada umumnya. Organisasi yang dikelola oleh warga Indonesia ini bermarkas di ibu kota Jakarta dan telah memiliki banyak anggota.
“Pada hakekatnya jurnalisme warga memberikan kebebasan. Ini satu perkara. Persoalan orang mau menanggapinya lain, itu lain perkara. Kebebesan itu bagian tersendiri. Kalau yang bersangkutan menggunakan ruang publik, maka akan ada akuntabilitas publik,” jawab Abror.
Siapa saja pelaku jurnalisme warga?
“Pelaku jurnalisme warga adalah warga. Siapapun boleh ikut,” terang Abror.
Siapa warga itu, menurut Aulia, bukan hanya warga dalam batasan warga dalam sebuah negara. Warga di sini juga mencakup warga dengan kategori profesi dan latar belakang, termasuk jurnalis yang bekerja di media mainstream.
Syaratnya, jika dia seorang wartawan, dalam melaporkan berita itu ia tidak sedang mewakili profesi dan lembaga medianya. Jika ia serorang pejabat publik, entah itu anggota dewan atau bahkan presiden, ia tak sedang mewakili jabatannya. Apa yang disampaikan adalah pandangan pribadinya.
Peran Penulis Surat Pembaca
Mengawali presentasinya, Bambang Haryanto memutar sebuah kaset hasil wawancara sebuah stasiun radio di Solo dengan salah seorang penulis surat pembaca. Narasumber menceritakan kisah awal mulanya ia menulis surat pembaca.
Suatu hari di tahun 1973. Narsumber mengirimkan surat pembaca ke harian Suara Merdeka. Ia menanyakan pohom palem di Alun-alun Utara Solo yang tidak terurus. Setelah suratnya dimuat, pohon palem itu diperhatikan oleh pemerintah setempat. Kini pohon palem itu tidak jadi mati, ia terus disiram hingga akhirnya tumbuh besar.
Di kemudian hari penulis surat pembaca itu mendirikan komunitas Epistoholik Indonesia. Sebagai ketuanya adalah si penggagas ide itu sendiri. Dia adalah Bambang Haryanto, penulis surat pembaca yang memasalahkan pohon palem yang tak terurus itu.
Istilah Epistoholik diambil dari Majalah Times. Dipakai untuk menjuluki Anthony Parakal, warga Evershine Nagar, Mumbai, India. Lebih dari 5.000 surat pembaca yang ditulis dalam Bahasa Inggris telah dikirimkannya ke berbagai media internasional. Jumlah yang teramat fantastis, bukan?
Ketika nama Epistoholik itu kali pertama muncul di majalah Times edisi 6 April 1992, Bambang sebenarnya telah lama memulai karirnya menulis surat pembaca. Setelah mengetahui bahwa kegemarannya menulis surat pembaca itu ternyata juga dilakukan oleh orang lain di belahan bumi sana, yang bahkan lebih gila dari yang sudah dikerjakannya, ia merasa perlu mempertegas lagi kegemarannya itu. Sejak itulah ia mulai merintis komunitas Epistoholik Indonesia yang didirikannya sejak tahun 1992.
Meski sudah dirintis sejak kemunculan Epistoholik di majalah Times, namun komunitas pegiat surat pembaca yang digagas Bambang itu baru bisa berjalan secara efektif mulai tahun 2003. Keanggotannya bersifat informal. Mulanya ia menghubungi sejumlah nama yang kerap menulis surat pembaca. Beberapa orang menaruh simpati dan virus menulis surat pembaca di media pun mulai disebarluaskan. Seperti yang kerap anda jumpai, sejumlah penulis surat pembaca mencantumkan embel-embel identitas “Warga Epistoholik Indonesia”.
Perkanalannya dengan blog di tahun 2003, dimanfaatkannya untuk menyebarluaskan gagasannya kepada khalayak yang lebih luas. Ia membuat sebuah blog http://episto.blogspot.com. Blog ini dibuat pada tahun 2003 ketika media ini belum begitu populer di kalangan pengguna internet di negeri ini.
Nama Bambang Haryanto telah dicatat dalam rekor Muri pada 27 Januari 2005 sebagai pendiri Komunitas Epistoholik Indonesia. Demikian seperti yang tertulis dalam poster berwarna merah yang sengaja dipajang Bambang di samping meja para pembicara. Di sana juga tertulis slogan Epistoholik Indonesia: "Episto Ergo Sum : Saya Menulis Surat Pembaca Karena Saya Ada".
Keamatiran Justru Kelebihan
Jika wartawan mengerjakan sebuah berita dengan kaidah dan standar kerja jurnalisme, pewarta jurnalisme melaporkan berita dengan pengetahuan dan style mereka yang berangkat dari berbagai latar belakang yang dimilikinya. Maka jangan berharap berita yang ditulis atau dilaporkan oleh “wartawan awam” ini akan memenuhi standar berita jurnalisme seperti yang dilaporkan oleh media mainstream.
Namun demikian, justru keamitran inilah yang menjadikan nilai lebih dari jurnalisme yang dikelola oleh warga. Aulia menyontohkan sebuah rekaman video saat terjadi Tsunami di Aceh beberapa tahun silam yang dibuat oleh Cut Putri.
Pembuat video dikenal sebagai selebritis. Apakah Cut Putri pernah mendapat materi jurnalisme, ini masih perlu ditelusuri, namun yang ingin disampaikan adalah video itu tidak dikejakan dengan metode kerja standar jurnalisme dan tidak sedang dikerjakan dalam rangka untuk dimuat di media.
Video itu dibuat begitu saja, asal-asalan. Sudut pandang gambar yang diambil tidak fokus, di sana-sini gambar goyang-goyang, menampakkan bahwa pengambil gambar memang masih amatir. Pengambil video sepertinya gugup, tak ada persiapan yang cukup dan juga ikut panik, seperti yang dialami orang-orang yang ada di sekelilingnya saat kejeadian.
Dari rekaman Cut Putri itu, terekam bagaimana bumi mendapatkan getaran pertama, wajah yang cemas, orang-orang yang berlarian, gerak air pasang, jeritan doa, tangis, pekikan Allohu Akbar!
“Aneh, ketika sejumlah wartawan memilih untuk menyelematkan diri dan keluarganya sendiri, Cut Tari yang bukan seorang wartawan justru melakukan apa yang seharusnya dikerjakan oleh wartawan,” ungkap Aulia dengan tatapan serius ke arah hadirin.
Aulia kemudian menarik beberapa kesimpulan. Dari sudut pandang, jurnalisme warga memiliki watak yang personal. Dalam video Cut Putri, gambar yang diambil murni mewakili sudut pandang si pengambil gambar.
Hal yang sama juga dilakukan oleh blogger yang menulis dalam diari onlinennya. Seorang blogger akan bercerita dengan sudut pandang saya. Bercerita secara lepas seolah tanpa beban ketika memuji pihak tertentu dan mengejek pihak lainnya, atau bahkan memuji dirinya sendiri.
Sesuatu yang personal ini sebenarnya dibutuhkan oleh pembaca untuk mengetahui situasi secara lebih utuh, secara lebih personal dan jujur. Tapi tampaknya yang seperti ini justru yang tidak terangkut dalam pemberitaan wartawan media mainstream.
Selain watak yang personal, ciri lain dalam jurnalisme warga adalah longgarnya durasi dan diangkatnya aspek lokalitas. Durasi bagi televisi adalah sesuatu yang teramat mahal harganya jika dibanding tarif iklan permenit yang bisa mencampai puluhan hingga ratusan juta. Sementara bagi media cetak, jumlah halaman akan berpengaruh pada harga cetak dan space untuk pengiklan. Dalam jurnalisme warga, semua kepentingan itu gugur. Durasi mendapatkan kelonggaran sepanjang rekaman atau tulisan yang dimaui oleh pewarta jurnalisme warga.
Melengkapi, bukan ancaman
Gegap gempita kemunculan jurnalisme warga di Indonesia tampaknya masih sebatas euforia masyarakat kita yang gemar ikut-ikutan merayakan fenomena global. Selain kurangnya kesadaran masyarakat akan perlunya menyampaikan informasi kepada khalayak, juga masih terbatasnya akses informasi masyarakat terhadap media internet.
“Bayangkan, setiap detik, technorati mencatat blog baru muncul di internet. Setiap menit jumlahnya sudah mencapai angka ratusan. Apakah anda semua sudah menjadi bagian dari masyarakat ini?” tanya Aulia kepada para hadirin.
“Jika tidak, mana mungkin jurnalisme warga akan mengancam media mainstream,” jawab Aulia.
Dari awal, Abror sudah menyatakan bahwa media yang ideal untuk menerapkan jurnalisme warga adalah internet. Jika partisipasi masyarakat dalam mengakses internet saja masih kurang, seperti kata Aulia, jurnalisme warga memang belum akan mengancam eksistensi media mainstream.
Aulia menunjukkan jika kehadiran jurnalisme warga dalam kenyataannya justru ditampung dengan baik oleh media mainstream. Sejumlah media besar di Indonesia kini menyediakan rubrik yang dikhususkan untuk pembacanya. Contohnya Suara Merdeka Cyber News yang sejak awal Februari 2008 membuat rubrik Suara Warga yang memberikan kesempatan kepada pembaca melaporkan beritanya secara lebih leluasa
Bambang sebagai pegiat komunitas Epistoholik Indonesia mengeluhkan kurang seriusnya media cetak dalam mengelola rubrik Surat Pembaca. Ia menyontohkan, sebuah tanggapan surat pembaca atas surat lainnya baru akan dimuat beberapa edisi kemudian. Belum lagi, surat itu kalau dimuat. Dan kalaupun dimuat, beritanya sudah basi. Jika rubrik surat pembaca itu dikelola secara lebih serius, Bambang yakin akan ada hal lebih yang bisa didapatkan dari menulis surat pembaca.
Kelemahan dalam media cetak, sebuah berita tidak mendapatkan timbal balik dari pembaca sehingga bisa terjadi interaksi antara si pembaca, wartawan dan pembaca lainnya. Dalam media internet atau media digital lainnya, sebuah percakapan bisa dengan mudah terjadi. Di internet berita mengalir dengan cepat. Di internet pula, alternatif informasi bisa dengan mudah ditemukan.
Jika masyarakat kita menyadari akan hal ini dan mau mengoptimalkan peran internet dalam membangun jurnalisme yang berbasis warga ini, bukan tidak mungkin peran media mainstream di masa mendatang akan mendapatkan saingan.
Dengan semakin berkembangnya jurnalisme warga, kelak akan semakin banyak orang yang akan berbagi peran dan kuasa dalam pendistribusian informasi kepada publik yang selama ini dimonopoli oleh media mainstream. Meski kehadirannya belum bisa dikatakan mengancam, setidaknya jurnalisme yang dikelola oleh warga ini bisa dijadikan alternatif bagi publik untuk memperoleh informasi.
Pada gilirannya nanti, bukan hanya kebebasan yang akan didapat oleh warga dari penerapan jurnalisme warga ini, tapi juga kemenangan. Ya, kemenangan untuk bisa ikut terlibat dalam menyuarakan suara warga tanpa perantara.
Tuesday, May 13, 2008
Blog dan Jurnalisme Warga
Posted by
udin
at
1:13 PM
0
comments
Wednesday, September 05, 2007
Sensasi Sang Pakar Telematika
Roy Suryo tampaknya hendak membuat kejutan di bulan Agustus ini menjalang peringatan Hari Ulang Tahun RI ke-62. Ia mempublikasikan lagu Indonesia Raya Tiga Stanza yang diklaimnya sebagai hasil temuannya bersama Tim Air Putih dari sebuah server di Belanda.
Konferensi Pers pun digelar. Media ramai mengabarkan temuan istimewa ini. Namun selang beberapa hari kemudian temuan itu ternyata dinyatakan basi!
Lagu Indonesia Raya yang diklaim oleh penemunya sebagai temuan baru itu ternyata sudah ada di Youtube sejak Desember 2006 . Reaksi juga datang dari Perum Percetakan Negara RI (PCNRI) Cabang Surakarta yang menyatakan sudah lama memiliki rekaman lagu Indonesia Raya Tiga Stanza seperti yang ditemukan Roy Suryo. Mohammad Ridwan seperti dilansir oleh Detik.com, mengaku pernah menemukan lagu Indonesia baru itu di buku pelajaran SD.
Tak hanya itu, pengurus Air Putih belakangan memberikan klarifikasi atas pernyataan Roy Suryo yang membawa-bawa nama lembaganya. Disebutkan bahwa Air Putih tidak pernah mengadakan penelitian secara khusus tentang arsip sejarah di internet. Dinyatakan pula bahwa Roy Suryo bukan anggota Air Putih, apalagi ketuanya.
Yang amat memalukan barangkali adalah soal pengakuan Roy Suryo yang menemukan lagu Indonesia Raya itu di sebuah server di Belanda. Menurut pengurus Air Putih lagu itu ditemukan dari hardisk di salah satu komputer milik Air Putih yang entah kapan dan didownload oleh siapa. Dan Roy Suryo adalah salah seorang yang pernah mengopi data sejarah dan lagu Indonesia Raya itu.
Roy Suryo, Media dan Blogger
Timbul pertanyaan, mengapa media massa pada mulanya tampak membesar-besarkan isu itu tanpa melakukan kroscek lebih dulu. Apakah memang wartawan pada mulanya memang tidak mengetahui bahwa temuan Roy Suryo itu sudah lama ada, atau memang ada agenda untuk kembali mengangkat isu ini mengingat momentum yang tepat menjelang peringatan Hari Ulang Tahun RI yang ke-62?
Memang media selanjutnya terus melakukan penelusuran, dan akhirnya membongkar apa yang sebenarnya terjadi. Media bisa membela diri bahwa kebenaran dirangkai dari waktu ke waktu, terus berevolusi, dan pada akhirnya semua informasi yang dirangkum itu saling melengkapi. Namun dari beberapa kali pemberitaan, media kerapkali tampak mengekspose secara berlebihan isu-isu yang dilontarkan oleh sang pakar telematika itu.
Hal inilah yang amat disayangkan oleh para blogger yang banyak mengetahui kapasitas kepakaran Roy Suryo, yang dicitrakan oleh media sebagai pakar telematika. Beberapa komentar sanggahan atas pernyataan-pernyataan Roy Suryo sempat dirangkum dalam situs Roysuryowatch.org, namun situs ini sudah tak dapat diakses lagi.
Ambar Sari Dewi pernah menulis profile Roy Suryo di Majalah Pantau edisi Juli 2001 yang diberi judul “Roy Suryo Sang Jagoan”. Tanpa melebih-lebihkan, agaknya sosok Roy Suryo yang diangkat oleh media dikupas secara berimbang dalam tulisan ini. Ada pernyataan saudara kandung Roy Suryo, Roni Suryo yang mengakui bahwa adiknya ini sebenarnya tak cukup punya kompetensi dalam bidang IT. Roni bahkan mengatakan jika adiknya memang suka mencari popularitas. Tulisan ini bisa dibaca di www.pantau.or.id.
Jika dirunut dari beberapa catatan para blogger, perseteruan Roy Suryo dengan para blogger itu bermula dari komentar Roy Suryo yang menilai bahwa blog dan friendster adalah tren sesaat. Menurutnya, seperti yang dicatat dalam blog priyadi.net, profile friendster 68% adalah palsu. Selain itu blog dan friensdter banyak dipakai oleh pemiliknya untuk melakukan character-assassination. Oleh karena itu, Roy menarik kesimpulan bahwa kebenaran informasi blog tak bisa dipercaya.
Sejumlah blogger pun bertanya-tanya. Apakah sang pakar telematika yang mengkritik blog ini punya blog, dia yang mengkritik friendster ini punya friendster. Ehmm... barangkali karena dia sudah tak percaya dengan segala macam barang gratisan, seperti blog atau email. Bukankah satu-satunya email yang sering dipakai juga numpang domain milik kampus? Ujung-ujungnya gratisan juga, khan?
Undangan yang bernada bersahabat disampaikan oleh Ikhlasul Amal. Amal mengajak Roy Suryo untuk menulis di blog. Saran Amal ini untuk memudahkan Roy melontarkan gagasannya daripada harus mengirimkannya ke milis dan media massa. Kelebihannya dengan blog, Roy bisa berinteraksi dengan para pembaca secara dua arah.
“Kelebihan blog menurut saya adalah kita bisa berkomunikasi langsung dengan pembaca tanpa melalui pihak ketiga yang kadang tidak cukup mengerti bidangnya. Kalau untuk RS menurut saya bukan itu yang dicari, RS malah butuh pihak ketiga yang punya akses ke masyarakat banyak, dan relatif percaya dengan omongan RS (lepas dari benar atau tidaknya argumentasi RS). Yang menjadi tujuan RS adalah sensasionalism, hal itu menurut saya gak bisa didapatkan dia dari blog. Selain itu media konvensional cenderung satu arah, hal ini cocok dengan personalitas RS yang kurang dapat berdiskusi. Jadi menurut saya, dari perspektif RS, blog tidak cocok untuk dia,” tulis Priyadi mengomentari posting Amal.
Kembali ke hubungan media dan Roy Suryo, siapa sebenarnya yang berkepentingan dalam mengekspos setiap isu sang pakar telematika itu. Media, ataukah Roy Suryo sendiri yang sebenarnya hendak mencari popularitas?
Pada kasus penemuan lagu Indoesia Raya Tiga Stanza ini, jika dirunut dari kronologi bagaimana isu itu dilempar ke publik, tampaklah bahwa Roy Suryo sendirilah yang mulanya mengontak media. Tak hanya itu ia menghubungi beberapa pejabat, ketua MPR sampai wakil presiden. Dan parahnya lagi, beberapa pejabat itu sempat terheran-heran akan penemuan Roy Suryo itu.
Apakah memang isu yang dihembuskan Roy Suryo ini, kalau memang tidak baru, tapi belum banyak diketahui oleh publik. Dan karena alasan itu Roy Suryo merasa perlu menyampaikannya ke media?
Baiklah jika memang demikian kenyataannya di lapangan, media, pejabat berwenang memang tak banyak yang tahu, sehingga kita bisa mengambil sisi positifnya. Persoalan selesai. Kehebohan itu cuma berlangsung beberapa hari saja dan masyarakat akan begitu saja melupakannya.
Tapi peristiwa ini tentu saja tak sebegitu mudahnya dilupakan oleh para blogger, khususnya yang sudah lama terlibat silang pendapat dengan Roy Suryo.
Selain soal kepakaran Roy Suryo dalam hal IT yang diragukan, juga sosok Roy Suryo yang dinilai gemar melakukan sensasi tanpa disertai data dan fakta yang akurat. Beberapa blogger menulis komentarnya terkait soal heboh penemuan “lagu Indonesia Raya Tiga Stanza” oleh sang pakar telematika ini.
Priyadi, misalnya. Dalam blognya priyadi.net, ia menulis “Kiat Sukses Menjadi ‘Penemu’ Versi Asli Lagu ‘Indonesia Raya’. Posting itu ditulis dengan nada satire yang sepertinya hendak menyatakan betapa naifnya seorang Roy Suryo, yang dalam aksinya kali ini lagi-lagi ingin mencari popularitas. Dari penelusuran arsip tulisan dalam blognya, Priyadi rupanya sudah beberapa kali menulis tentang Roy Suryo.
Catatan-catatan lainnya bisa ditemukan di blog Ndoro Kakung, Jay, M Fahmi Aulia, atau prediksi kisah selanjutnya "Habis Indonesia Raya, Beralih ke Telor Columbus".
Bagi sejumlah blogger, kasus penemuan lagu “Indonesia Raya Tiga Stanza” ini barangkali akan menambah catatan aib Roy Suryo, sosok yang dijuluki media sebagai pakar telematika. Blogger lain bisa jadi mendukung, masyarakat di luar blogger barangkali juga akan menganggap Roy Suryo sebagai orang yang banyak berjasa. Silakan saja, siapapun boleh menyampaikan pendapatnya. Media juga boleh memberikan julukan apa saja, namun pada akhirnya pembacalah yang akan memberikan penilaian. Apakah berita itu akurat, atau cuma sekadar sensasi!
*Tulisan ini dimuat di rubrik gaya suaramerdeka.com, dan juga versi blognya blog.suaramerdeka.com
Posted by
udin
at
11:45 AM
0
comments
Monday, October 02, 2006
Antara Blogger dan Jurnalis
Oleh Muhammad Sulhanudin
Apakah Anda sempat bertanya, untuk apa para blogger rajin menulis (memposting) di blognya. Dari artikel yang bersifat pemikiran, penemuan-penemuan baru, sampai yang cuma sekadar catatan keseharian yang lebih tepat disebut curhat (curahan hati). Apapun jenis blog tersebut, pembaca bisa banyak mendapat banyak informasi dari sana.
Bukankah para blogger itu menulis tidak dibayar. Meski ada program Google Adsense , yang akan membayar blogger, namun kebanyakan blogger masih menulis secara sukarela. Mereka juga menulis bukan untuk institusi atau lembaga seperti media?
Dari sana muncul dugaan bahwa para blogger melakukan aktivitas ngeblog (blogging) nya karena kecintaan pada menulis. Mereka rela memposting tiap hari ke blognya tanpa dibayar, tanpa namanya muncul di media.
Lalu apa wartawan yang menulis tiap hari di media tempat bekerjanya bisa disebut sebagai blogger?
Kalau ditinjau dari jenis aktivitasnya, baik blogger maupun wartawan, keduanya sama-sama menulis. Tapi jika dicermati dari motivasi dan untuk apa dan siapa mereka menulis, tentu saja berbeda. Wartawan menulis untuk media, sementara blogger menulis untuk dirinya sendiri. Blog menjadi tempat blogger menuangkan pendapatnya. Sementara media belum tentu mewakili opini pribadi wartawan, tetapi mewakili publik atau bahkan pemilik media.
Dari sana, kita menemukan spirit yang luar biasa dari para blogger. Mereka menulis karena kecintaan. Mereka menulis karena perlu untuk disampaikan. Dibilang narsis, ya emang blogger harus narsis. Justru ini yang perlu dicontoh.
Tapi, mengapa sedikit wartawan yang memiliki blog. Menyedihkan lagi, sebagian diantaranya anonim. Ia seolah tak pede dengan statusnya sebagai wartawan. Dia cerita ngalor ngidul tentang persoalan di luar profesinya. Justru blogger, yang tidak memiliki latar belakang jurnalis, malah yang pertama kali mengabarkan tentang sesuatu kejadian di blognya. Jadilah wartawan yang bukan blogger, dan blogger yang bermental wartawan.
Memang nggak ada yang melarang. Tapi, alangkah lebih baik, jika blog bisa menjembatani wartawan dengan pembaca. Alangkah lebih baik jika kita menulis tentang sesuatu yang paling dekat dengan kita, yang paling kita mengerti.
Adakalanya ketika menulis di media, wartawan tidak bebas. Ada sesuatu yang tak boleh disampaikan oleh pimpinan. Ada alasan tertentu kenapa mengambil sudut pandang tertentu. Ini salah satu alternatif yang bisa dimanfaatkan oleh seorang wartawan yang juga blogger.
Sekadar contoh, seperti yang dilakukan oleh desainer tempo yang menjelaskan tentang alasan pemilihan desain di http://tukangkoran.blogspot.com/ atau Andreas Harsono yang banyak mengupas soal catatan jurnalismenya di http://andreasharsono.blogspot.com. Selain dua blog itu, tentu masih ada blog menarik lainnya.
*disarikan dari workshop blog untuk wartawan di Semarang pada pertengahan September 2006.
Posted by
udin
at
10:48 AM
0
comments
Labels: Opini